Hampai Sayap dan kecemburuan Hudhud …

HUDHUD

Kau berkata tentang hampai sayap si pencari air,

tentang kepak perjalanan jauhnya dan kabar yang dibawanya …

Katamu, Hudhud punya alasan atas keterlambatannya …

-dia cemburu melihat penduduk semenanjung itu mengabahkan wajah kepada mentari …

 

*

**

 

Di antara perkara menakjubkan yang dikabarkan Allah dalam al-Quran adalah kenyataan tentang adanya makhluk yang tak dibebani taklif (beban syariat) tetapi memiliki kecemburuan yang sangat besar terhadap agama Allah –‘Azza wa Jalla. Makhluk yang dimaksud adalah burung hudhud di masa pemerintahan dan kenabian Sulaiman –‘alaihi as-salam. Hudhud begitu cemburu melihat penyimpangan tauhid kaum Saba’, dan ia pun mengutarakan kecemburuannya terhadap tauhid dan pengingkarannya terhadap perilaku kaum Saba’ itu  kepada Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salam

 

Allah –ta’ala– berfirman (QS. an-Naml: 20-26):

 

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (٢۰) لَأُعَذِّبَنَّه ُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (٢١) فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ بِنَبَأٍ يَقِينٍ (٢٢) إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (٢٣) وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ (٢٤) أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ(٢٥( اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (٢٦)

 

Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada yang berhak untuk disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai ‘Arsy yang besar.”

 

Ayat-ayat tersebut menjelaskan beberapa faidah kepada kita:

  • Bahwa Hudhud mengetahui tentang tauhidullah (keesaan Allah), yaitu hanya Allah sajalah satu-satu-Nya yang berhak untuk diibadahi
  • Hudhud mengetahui bahwa menyembah sesuatu selain Allah adalah perbuatan syirik
  • Hudhud –yang tak dibebani taklif- lebih mengetahui tentang tauhid dan syirik dibandingkan sebagian manusia yang dibebani taklif
  • Hudhud memiliki kecemburuan dan gairah yang tinggi terhadap tauhidullah dan mengingkari perbuatan syirik
  • Hudhud memahami pengertian laa ilaaha illallaah, yaitu tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah

 

 

قال الشيخ عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ -رحمه الله- في الدرر السنية (٢/٢٧٧): فحدث الهدهدُ سليمان -عليه السلام بما رآهم يفعلونه من السجود لغير الله؛ والسجود نوع من أنواع العبادة؛ فليت أكثر الناس عرفوا من الشرك ما عرف الهدهد؛ فأنكروه وعرفوا الإخلاص فالتزموه …

 

Syaikh ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh –rahimahullah– di kitab ad-Durar as-Saniyyah (2/277), “Maka Hudhud pun berbicara kepada Sulaiman –‘alaihi as-salam- mengenai hal yang dilihatnya dari perbuatan-perbuatan kaum Saba’ yang bersujud kepada selain Allah, dan (Hudhud mengetahui bahwa) sujud itu merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk ibadah. Aduhai kalaulah kiranya kebanyakan manusia itu mengetahui kesyirikan seperti yang diketahui oleh Hudhud lalu mereka mengingkari perbuatan syirik itu. Aduhai, kalaulah kiranya mereka mengetahui akan keikhlasan lalu melazimi jalan tempuh tauhid (keikhlasan).”

 

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam suatu hadits telah melarang manusia untuk membunuh burung Hudhud. Mungkin saja, wallahu a’lamu, di antara alasan dan hikmah dari pelarangan tersebut adalah karena burung Hudhud itu termasuk makhluk yang sangat mengenal tauhid. Imam Ibn Katsir berkata di kitab tafsirnya:

 

ولما كان الهدهد داعيا إلى الخير، وعبادة الله وحده والسجود له، نهي عن قتله

 

“Dan kenyataan bahwa burung Hudhud itu merupakan penyeru kepada kebaikan dan kepada peribadahan terhadap Allah satu-satu-Nya serta untuk bersujud hanya kepada Allah saja, maka dilaranglah manusia untuk membunuh burung Hudhud.”

 

Tauhid adalah inti dakwah para nabi dan rasul. Tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul serta menurunkan kitab-kitab-Nya selain untuk menegakkan tauhid di muka bumi, yakni agar manusia beribadah kepada Allah semata karena tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah …

 

 

Bandung, 26 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Tentang Penisbatan al-Bada-u kepada Allah –‘Azza wa Jalla …

Untitled

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن ثلاثة في بني إسرائيل أبرص وأقرع وأعمى بدا لله عز وجل أن يبتليهم … -البخاري

 

 

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– behwasanya dia mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Bani Isra-il, yang satu berpenyakit Kusta, yang satu berkepala botak, dan yang satu lagi buta. Tebersitlah ide pada diri Allah –‘Azza wa Jalla- untuk menguji ketiga orang itu.” (HR. al-Bukhari)

 

Pada hadits tersebut terdapat redaksi بدا (badaa) yang secara bahasa artinya adalah sebegai berikut:

 

البَدَاءُ: الظهور والإبانة بعد الخفاء

 

“Al-Bada-u adalah muncul dan tampak setelah sebelumnya tersembunyi.”

 

البَدَاءُ : ظهور الرأي بعد أن لم يكن

 

“Al-Bada-u adalah munculnya ide setelah sebelumnya tak ada.”

 

البَدَاءُ استصواب شيءٍ عُلِمَ بعد أنْ لم يُعْلَمْ

 

“Al-Bada-u adalah pembenaran terhadap sesuatu yang diketahui setelah sebelumnya tak tahu.”

 

Penisbatan sifat al-Bada-u kepada Allah tidaklah dibenarkan. Allah tidak layak untuk disifati dengan sifat tersebut karena sungguh Allah itu Maha Suci dari sifat mengetahui setelah sebelumnya tidak tahu …

 

Ibn al-Atsir berkata di kitab an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar:

 

والبَدَاءُ استصواب شيءٍ عُلِمَ بعد أنْ لم يُعْلَمْ٬ وذلك على اللّه عز وجل غير جائز

 

“Dan al-Bada-u itu adalah pembenaran terhadap sesuatu yang diketahui setelah sebelumnya tak tahu. Dan penyandaran sifat tersebut kepada Allah tidaklah diperbolehkan.”

 

Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir al-Bakistani berkata di kitab al-Ahadits adh-Dhi’af wa al-Maudhu’at fi al-Asma’ wa ash-Shifat (halaman 8):

 

ولفظ (بدا) أخرجها البخاري في صحيحه (٣٤٦٤) في هذا الحديث الطويل من طريق عبد الله بن رجاء الغداني أخبرنا همام عن إسحاق أخبرني عبد الرحمن بن أبي عمرة عن أبي هريرة به٬ وهي خطأ ليست بصواب لأن معنى (بدا) أي ظهور له بعد أن كان خافيا عليه٬ وهذا لا يجوز إطلاقه على الله عز وجل٬ ومما يؤكد خطأ هذه اللفظة أن الحديث أخرجه البخاري نفسه في صحيحه ومسلم بلفظ: (أراد الله). قال الألباني حفظه الله في حاشية مختصر صحيح البخاري (٢/٤٤٦) بعد أن ذكر لفظة (أراد الله): قلت: وهي رواية مسلم٬ وهذا هو المحفوظ٬ ثم قال: ونسبة البداء إلى الله لا يجوز٬ ومال الحافظ إلى أن الرواية الأولى من تغيير الرواة وظني أنه الغداني كما ألمحت إليه٬ والرواية المحفوظة لم يستحضرها الحافظ عند المصنف فعزاها لمسلم وحده …

 

Dan redaksi “badaa” dikeluarkan oleh al-Bukhari di kitab Shahih-nya (3464) dalam hadits yang panjang dari jalan ‘Abdullah bin Raja’ al-Ghudani: telah mengabarkan kepada kami Hammam, dari Ishaq: telah mengabarkan kepadaku ‘Abd ar-Rahman bin Abi ‘Amrah dari Abu Hurairah. Dan redaksi “badaa” tersebut keliru dan tidak benar karena makna “badaa” itu adalah, “Tampak bagi-Nya setelah sebelumnya tersembunyi dari-Nya,” dan ini tidak diperkenankan untuk diucapkan kepada Allah –‘Azza wa Jalla. Dan di antara hal yang menguatkan kekeliruan redaksi tersebut adalah bahwasanya Imam al-Bukhari sendiri mengeluarkan juga hadits tersebut dalam kitab Shahih-nya (pada bab lain yang bukan dari jalan ‘Abdullah bin Raja’ al-Ghudani –pent), juga Imam Muslim dengan redaksi, “Araadallah (Allah berkehendak untuk menguji.” Syaikh al-Albani –hafizhahullah– dalam catatan pinggir Mukhtashar Shahih al-Bukhari (2/446), setelah menyebutkan redaksi, “Araadallah (Allah berkehendak untuk menguji,” mengatakan sebagai berikut, “Aku (Syaikh al-Albani) katakan, ini adalah riwayat Muslim, dan inilah redaksi yang terjaga (benar).” Kemudian beliau berkata lagi, “Dan menyandarkan sifat al-bada-u kepada Allah itu tidak diperbolehkan. Al-Hafizh Ibn Hajar pun cenderung kepada pendapat bahwa riwayat yang pertama (yakni riwayat dengan redaksi badaa) berasal dari taghyir (perubahan) salah seorang perawi, dan aku memiliki dugaan bahwa perawi tersebut adalah al-Ghudani sebagaimana yang kuisyaratkan. Akan tetapi, riwayat (dengan redaksi) yang terjaga itu tidak disebutkan berasal dari al-Bukhari oleh al-Hafizh, tetapi hanya disandarkan kepada Muslim saja.” –SELESAI …

 

 

Bandung, 16 Desember 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Dengan Tangan-Nya Ayah Dicipta, dengan Tangan-Nya pula Taurat Ditulis …

dengan tangan-Nya

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah

http://islamqa.info/ar/117279

السؤال :يروي الإمام الذهبي رحمه الله عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال :(خلق الله أربعة أشياء بيده: العرش، والقلم، وآدم، وجنة عدن، ثم قال لسائر الخلق: كن فكان) تفسير ابن جابر (23/185)، الدارمي في رد على المريسي (ص90)، الأسماء والصفات للبيهقى (ص233)فأرجو توضيح هذا الأمر .

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– mewartakan kabar dari ‘Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya, yaitu (1) al-‘Arsy, (2) al-Qalam (pena), (3) Adam, dan (4) surga ‘Adn, kemudian Allah berkata (terhadap penciptaan) seluruh makhluk, “Kun (Jadilah)!” Maka jadilah (makhluk itu).

Aku mengharapkan penjelasan mengenai masalah ini …

الجواب :

الحمد لله

الذي ثبت لنا –بعد الجمع والدراسة– أن الله سبحانه وتعالى قد خص أشياء معينة بأنه خلقها أو عملها بـ “يده” سبحانه وتعالى دون سائر المخلوقات، وهذه الأمور هي :

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

Alhamdulillah …

Perkara yang kukuh bagi kami –setelah mengumpulkan dan mempelajarinya- bahwasanya Allah –subhanahu wa ta’ala– telah mengkhususkan beberapa hal tertentu dengan menciptakan hal-hal tertentu itu atau mengerjakan hal-hal tertentu itu (langsung) dengan tangan-Nya –subhanahu wa ta’ala, sementara terhadap seluruh makhluk lainnya tidaklah seperti itu. Adapun hal-hal tertentu yang Allah khususkan itu adalah sebagai berikut:

أولاً: خلق آدم .

دليل ذلك قوله عز وجل: (قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ)ص/75 .

PERTAMA: Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dalilnya adalah ucapan Allah –‘Azza wa Jalla– berikut:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75)

ثانياً: غرس جنة عدن بيده سبحانه.

دليله ما ورد عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ: غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي، وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ) رواه مسلم برقم (312)

KEDUA: Allah menanam (tanaman) surga ‘Adn dengan tangan-Nyasubhanahu, dalilnya adalah hadits yang berasal dari al-Mughirah bin Syu’bah –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Allah berkata: mereka itulah orang-orang yang Aku berkenan (memilih mereka), Aku menanam kemuliaan mereka (yaitu balasan di surga) dengan tangan-Ku dan menutupinya sehingga tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” –Diriwayatkan oleh Muslim (312)

ثالثاً: كتب الألواح لموسى عليه السلام بيده .

دليله ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى، فَقَالَ مُوسَى: يَا آدَمُ! أَنْتَ أَبُونَا، خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنْ الْجَنَّةِ.فَقَالَ لَهُ آدَمُ: أَنْتَ مُوسَى، اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ، وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةً.فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى .

وَفِي حَدِيثِ ابْنِ أَبِي عُمَرَ وَابْنِ عَبْدَةَ قَالَ أَحَدُهُمَا: خَطَّ، وقَالَ الْآخَرُ: كَتَبَ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ. رواه مسلم برقم (2652)

KETIGA: Allah menulis (kitab Taurah) untuk Musa –‘alaihi as-salam– dengan tangan-Nya(*), dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata: Adam dan Musa berdebat. Musa berkata, “Wahai Adam, kaulah ayah kami. Kau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga.” Adam pun berkata kepada Musa, “Kau Musa, Allah telah memilihmu untuk berbicara langsung dengan-Nya, dan Allah pun menulisuntukmu dengan tangan-Nya. Apakah kau mencelaku atas perkara yang telah Allah tetapkan bagiku dari semenjak empat puluh tahun sebelum menciptakanku?” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Maka Adam pun mengalahkan argumentasi Musa.” Dan dalam hadits Ibn Abi ‘Umar dan Ibn ‘Abdah, salah seorang dari keduanya berkata, “Dia menulis,” sedangkan yang seorang lagi mengatakan, “Dia menulis kitab Taurah untukmu dengan tangan-Nya.” –Diriwayatkan oleh Muslim (2652)

(*) disebutkan menulis Taurat, bukan menciptakan Taurat, sebab Taurat adalah kalam Allah bukan makhluk, dan Allah berkenan menuliskan kalam-Nya untuk Musa –‘alaihi as-salam … –HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA …

رابعاً : القلم.

دليله أثر مروي عن ابن عمر رضي الله عنهما من قوله موقوفا عليه – وهو الأثر الوارد في السؤال – قال: (خلق الله أربعة أشياء بيده: العرش، والقلم، وآدم، وجنة عدن، ثم قال لسائر الخلق: كن فكان) رواه الطبري في “جامع البيان” (20/145)، والدارمي في “نقضه على المريسي” (ص/261)، وأبو الشيخ الأصفهاني في “العظمة” (2/579)، والآجري في “الشريعة” (رقم/750)، والحاكم في “المستدرك” (2/349)، والبيهقي في “الأسماء والصفات” (2/126).

جميعهم من طرق عن عُبيد المكْتِب عن مجاهد عن ابن عمر رضي الله عنهما به .

وهذا إسناد صحيح، عبيد هو ابن مهران المكتب الكوفي وثقه النسائي وابن معين، انظر “تهذيب التهذيب” (7/68).

لذلك قال الحاكم بعد إخراجه للأثر: “هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه “انتهى. ووافقه الذهبي .وجاء نحوه أيضا عن ابن عباس رضي الله عنهما، وعن ميسرة ووردان بن خالد وغيرهم من التابعين .انظر “الدر المنثور” للسيوطي (3/549)(7/207) ، فقد جمع كثيراً من هذه الآثار المتعلقة بالموضوع نفسه

KEEMPAT: Allah menciptakan al-Qalam (pena) dengan tangan-Nya, dalilnya adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dari perkataannya secara mauquf, yaitu atsar yang disebutkan dalam pertanyaan di atas. Ibn ‘Umar berkata:

Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya, yaitu (1) al-‘Arsy, (2) al-Qalam (pena), (3) Adam, dan (4) surga ‘Adn. Kemudian Allah berkata (terhadap penciptaan) seluruh makhluk, “Kun (jadilah)!” Maka jadilah (makhluk itu).

Atsar Ibn ‘Umar tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabari di kitab Jami’ al-Bayan (20/145), ad-Darimi dalam Naqdh-nya terhadap al-Marisi (halaman 261), Abu asy-Syaikh al-Ashfahani di kitab al-‘Azhamah (2/579), al-Ajurry di kitab asy-Syari’ah (750), al-Hakim di kitab al-Mustadrak (2/349), dan al-Baihaqi di kitab al-Asma’ wa ash-Shifat (2/162); semuanya dari jalan ‘Ubaid al-Muktib, dari Mujahid, dari Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dengan riwayat tersebut. Dan isnad riwayat ini sahih, ‘Ubaid adalah Ibn Mihran al-Muktib al-Kufi. Imam an-Nasa-i dan Ibn Ma’in menganggapnya tsiqah; lihat Tahdzib at-Tahdzib (7/68). Oleh karena itu Imam al-Hakim berkata setelah mengeluarkan atsar tersebut, “Ini hadits yang sahih isnadnya namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya,” dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Terdapat pula riwayat seperti itu dari Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma, juga dari Maisarah dan Wardan bin Khalid serta selain mereka dari kalangan tabi’in; lihat ad-Durr al-Mantsur karya as-Suyuthi (3/549) (7/207), dia telah mengumpulkan banyak dari atsar-atsar ini yang berkaitan dengan tema yang sama …

 

وقد تلقى أهل السنة هذا الأثر بالقبول وأوردوه في مصنفاتهم، وردوا به على الجهمية في إنكارهم صفة اليد لله سبحانه .قال الإمام عثمان بن سعيد الدارمي رحمه الله، بعد روايته للأثر: “أفلا ترى أيها المريسي كيف ميز ابن عمر وفرق بين آدم وسائر الخلق في خلقه اليد أفأنت أعلم من ابن عمر بتأويل القرآن وقد شهد التنزيل وعاين التأويل وكان بلغات العرب غير جهول.”

“نقض الدارمي على بشر المريسي” (35)

Kalangan Ahl as-Sunnah telah menerima atsar ini dan mengemukakannya dalam kitab-kitab mereka. Dengan atsar ini mereka membantah kelompok al-Jahmiyah atas pengingkarannya terhadap sifat tangan bagi Allah –subhanahu. Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi –rahimahullah– berkata setelah mengemukakan atsar ini, “Tidakkah kau melihat, wahai al-Marisi, bagaimana Ibn ‘Umar membedakan dan memperlainkan antara Adam dengan semua makhluk dalam penciptaannya dengan tangan? Apakah kau lebih tahu dari Ibn ‘Umar mengenai takwil al-Quran padahal dia menyaksikan turunnya al-Quran dan melihat langsung penjelasannya, sementara dia tidaklah bodoh terhadap bahasa Arab.” –kitab Naqdh ad-Darimi ‘ala Bisyr al-Marisi (35) …

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: “ثبوت ما أثبته الدليل من هذه الصفات لم يوجب حاجة الرب إليها، فإن الله سبحانه قادر أن يخلق ما يخلقه بيديه وقادر أن يخلق ما يخلقه بغير يديه وقد وردت الأثارة من العلم بأنه خلق بعض الأشياء بيديه وخلق بعض الأشياء بغير يديه ….، ثم نقل رحمه الله – أي: شيخ الإسلام – أثر الدارمي ” انتهى .

بيان تلبيس الجهمية” (1/513)

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah –rahimahullah– berkata, “Kepastian yang ditetapkan oleh dalil dari sifat-sifat ini tidaklah serta-merta mengharuskan bahwa Rabb butuh kepada semua itu karena Allah –subhanahu- itu mampu menciptakan makhluk dengan kedua tangan-Nya maupun menciptakan makhluk tanpa menggunakan kedua tangan-Nya. Terdapat atsar ilmu (peninggalan pengetahuan dari salaf) bahwasanya Allah menciptakan beberapa hal dengan kedua tangan-Nya dan menciptakan hal-hal lainnya bukan dengan kedua tangan-Nya …,” kemudian Syaikh al-Islam –rahimahullah– menukil atsar yang diriwayatkan oleh imam ad-Darimi tersebut … –SELESAI; kitab Bayan Talbis al-Jahmiyah (1/513) …

ومما ينبغي التنبيه عليه ههنا أمران :

1- ورد في ذكر هذه الأشياء التي خلقها الله بيده أحاديث مرفوعة تجمعها في سياق واحد، ولكنها أحاديث ضعيفة ، فلا حاجة لذكرها هنا .

2- المفهوم المتفق عليه من هذا التخصيص أنه لمزيد تكريم وتشريف وتعظيم، لحكمة يعلمها سبحانه وتعالى، خص هذه الأربعة بأنه خلقها بيده ولم يجعل خلقها بكلمة كن كسائر المخلوقات، فلا يجوز الخوض في تفصيل معاني هذا التخصيص، وكيفيته، بل يجب التسليم به، مع تنزيه الله تعالى عن كل نقص وعيب وتشبيه .

Ada dua hal yang seyogianya diberitahukan di sini yaitu:

(1) (Memang) terdapat hadits-hadits marfu’ dalam konteks yang sama yang menyebutkan tentang beberapa hal yang diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya namun semua hadits marfu’ itu lemah sehingga tidak perlu disebutkan di sini.

(2) Telah sama dimaklumi dari pengkhususan ini, yaitu bahwasanya pengkhususan tersebut merupakan bentuk pemuliaan, penghormatan, dan pengagungan lebih (terhadap hal yang dikhususkan). Berdasarkan hikmah yang diketahui oleh Allah –subhanahu wa ta’ala, Dia mengkhususkan keempat hal tersebut dengan menciptakan mereka dengan tangan-Nya dan bukan menciptakan mereka dengan kalimat, “Kun (jadilah),” sebagaimana terhadap semua makhluk selain mereka. Tidaklah boleh menceburkan diri mencari makna-makna yang terperinci dari pengkhususan tersebut, juga mengenai kaifiyah-nya, tetapi hendaklah dia taslim terhadap kabar tersebut seraya menyucikan Allah –ta’ala– dari segala kekurangan dan aib, juga menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk.

قال الإمام عثمان بن سعيد الدارمي رحمه الله: “ثم إنا ما عرفنا لآدم من ذريته ابنا أعق ولا أحسد منه؛ إذ ينفي عنه أفضل فضائله وأشرف مناقبه، فيسويه في ذلك بأخس خلق الله لأنه ليس لآدم فضيلة أفضل من أن الله خلقه بيده من بين خلائقه، ففضله بها على جميع الأنبياء والرسل والملائكة؛ ألا ترون موسى حين التقى مع آدم في المحاورة: احتج عليه بأشرف مناقبه فقال: أنت الذي خلقك الله بيده، ولو لم تكن هذه مخصوصة لآدم دون من سواه ما كان يخصه بها فضيلة دون نفسه “انتهى

“نقض الدارمي على بشر المريسي” (1/255)

والله أعلم .

Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi –rahimahullah– berkata:

Kemudian sesungguhnya kami tidak mengetahui dari keturunan Adam orang yang lebih durhaka dan lebih hasad dari al-Marisi, ketika dia menafikan seutama-utamanya keutamaan Adam dan semulia-mulia perihalnya lalu mempersamakannya dalam (masalah penciptaannya) itu dengan serendah-rendah makhluk Allah. Sesungguhnya tidak ada keutamaan yang lebih utama bagi Adam daripada (kenyataan) bahwa Allah menciptakannya dengan tangan-Nya. Maka Allah mengutamakan Adam dengan penciptaan itu atas seluruh nabi, rasul, dan malaikat. Tidakkah kau memerhatikan (perihal) Musa ketika dia berhadapan dengan Adam dalam suatu perdebatan? Musa mendebat Adam seraya mengemukakan kemuliaan Adam yang paling mulia, yaitu dengan mengatakan, “(Wahai Adam), kaulah orang yang Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya!” Kalaulah keutamaan ini tidak dikhususkan bagi Adam tanpa selainnya, tidaklah Musa akan mengemukakan pengkhususan ini kepada Adam (dalam perdebatan) tanpa menyertakan dirinya … –SELESAI; Naqdh ad-Darimi ‘ala Bisyr al-Marisi (1/255) …

Wallahu a’lamu

Bandung, 21 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–